KONFLIK KONSERVASI
Sementara, di ekosistem hutan, biasanya konflik konservasi muncul antara satwa endemik dan pengusaha HPH. Yang pasti penyebabnya banyak faktor, seperti dikarenakan adanya penyempitan lahan dan kekuraangan sumber daya alam, pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat serta permintaan pada sumber daya alam meningkat.
Satu sisi, konflik konservasi akan semakin parah jika, sumber daya alam berhadapan dengan batas politik. Contohnya, daerah resapan di konversi untuk HTI, HPH ( kepentingan politik ekonomi ), pemerintah dengan kebijakan tata ruang yang tidak berpihak pada prinsip pelestarian sumber daya alam dan lingkungan, dan perambahan dengan latar kepentingan politik untuk mendapatkan dukungan suara dari kelompok tertentu dan juga sebagai sumber keuangan ILEGAL.
Pantauan awak Media di Riau, tepatnya di kawasan Konservasi Hutan Suaka Margasatwa Balai Raja, banyak terjadi konflik konservasi. Salah satunya di daerah Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, mengenai lahan warga atau perusahaan yang ada di dalam kawasan hutan konservasi tersebut.
Satu hal yang perlu diutarakan dalam konsep konservasi adalah pandangan bahwa penduduk lokal bukan faktor pengganggu satu-satunya di daerah perbatasan kawasan Konservasi. Namun, ketika masyarakat melihat pelanggaran batas yang bertindak dalam skala besar ( seperti, perusahaan perkebunan dan perusahaan pertambangan ), mungkin dapat dimaklumi. Lalu masyarakat merasa binggung, dan kemudian protes, kenapa mereka tidak juga diperbolehkan untuk membuka lahan pertanian baru yang hanya pada sistem perladangan lokal dan serta menggunakan pengetahuan tradisional?.
Terakhir, mungkin masyarakat hanya di jadikan kambing hitam saja oleh pemerintah?, mungkin juga karena masyarakat merupakan sasaran yang gampang dan tidak akan mampu melakukan perlawanan yang berarti?. -efn-