Pelayanan Kesehatan Kurang Maksimal, 300 Ribu Dolar AS Uang Riau Melayang Kenegara Asing
BAGANSIAPIAPI - Masih belum maksimalnya pelayanan kesehatan yang diberikan, membuat masyrakat Indonesia khususnya Propinsi riau berbondong -bondong keluar negeri dalam pendapatkan pelayanan pengobatan. Akibatnya, uang yang ada dipropinsi Riau setiap tahunnya melayang kenegara asing sebesar 300 ribu dolar Amerika serikat (AS) untuk biaya pelayanan kesehatan.
Agar hal ini tidak terus berlanjut, maka para perawat salah satu bagian dari tenaga kesehatan yang berhadapan langung kepada masyrakat diminta untuk meningkatkan kinerjanya secara profesional, "kata Asisten IV Bidang Adminstrasi, Hj Dahniar Mkes saat membuka Seminar kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan perawat, diaula Wisma Mahera, Bagansiapiapi, Senin (23/11) kemaren.
Dikatakan Dahniar, Saat ini kebutuhan masyrakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan semakin meningkat. Oleh karena itu perawat harus mampu mengimbangi kebutuhan dari masyrakat tersebut. Tingginya angka masyrakat keluar negeri dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dikarenakan ketidakmampuan kita dalam memberikan pelayanan kesehatan, "bebernya.
Dilanjutkan, Kurang maksimalnya pelayanan kesehatan juga ditenggarai dengan terbatasnya tenaga dokter yang bertugas, sehingga para perawat dalam bekerja melebihi tugas dan fungsinya sebagai tenaga perawat. Selain itu, perawat juga dituntut harus menguasai undang-undang keperawatan yang baru, sehingga dalam bertugas tidak terjadi pelanggaran rambu-rambu dan batas-bataannya dalam memberikan pelimpahan berupa rujuk ke RSUD, "pinta Dahniar.
Diterangkannya lagi, Perawat adalah profesi yang berhadapan langsung dengan masyrakat banyak, sehingga 60 persen tugas dan fungsi (tupoksi) perawat itu selain memberikan pelayanan kesehatan juga melakukan promosi kesehatan terutama perawat yang bertugas di Puskesmas. "puskesmas itu kan ujung tombaknya RSUD, jika pelayanan dipuskesmasnya bagus, maka nama RSUD disuatu daerah akan naik dan harum, "ujarnya.
Perbaikan pelayanan kesehatan haruslah dimulai mulai dari atas hingga bawah. Apabila dibiarkan maka indonesia tidak akan pernah maju. "Peralatan sama, Tempat dan bentuk ruangan sama, tapi belum dimaksimalkan dengan diikuti Sumber Daya Manusia yang memadai, "katanya.
Salah satu langkah yang harus dipenuhi bagi Perawat yang masih D3 harus meningkatkan ilmu minial S1. Hal ini juga sedang digencarkan pemkab Rohil. Apalagi saat ini sudah dibentuk Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang menjadi wadah para perawat untuk menyampikan aspirasi serta wadah diskusi.
Mantan Direktur RSUD Dr RM Pratomo Bagansiapiapi ini juga meminta, semua perawat di Rohil harus menjalankan kerja sesuai dengan Undang-Undang yang telah dibuat. "Ingat membuat undnag-undnag itu butuh waktu yang lama, isinya tentang payung hukum tugas perawat, jangan pula tak dilaksanakan padahal usulan isinya itu merupkan harapan dari seluruh perawat tanah air yang disahkan oleh DPR RI, "pesan Dahniar.
Sementara itu, Kadiskes Rohil Dr HM Junaidi Saleh Mkes mengatakan seminar ini dilaksanakan dalam upaya pemerintah menambah ilmu pengetahuan khususnya dibidang undang-undang baru keperawatan. Sehingga kedepannya perawat dalam bekerja tidak semberono dan melakukan pelanggaran yang membuat masyrakat menjadi rugi, "pungkasnya.
Seminar kesehatan itu dihadiri Asisten IV Bidang Administrasi setdakab Rohil, Hj Dahniar Mkes, Kadis Kesehatan Rohil Dr HM Junaid Saleh Mkes, Ketua PPNI Rohil, Achamd Yusuf. sementara peserta seminar itu berasal dari seluruh pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) kabupaten Rohil. (Dpr/Af)